Resensi Film ”Jomblo”
Judul:
JOMBLO
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Salman Aristo, Adhitya Mulya, Hanung Bramantyo
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Christian Sugiono, Denis Adhiswara, Rizky
Hanggono, Rianti R. Cartwright, Nadia Saphira, Tike Priatna Kusumah
Produksi: SinemArt Pictures
Sebuah karya Hanung Bramantyo yang memotret petualangan cinta empat
mahasiswa. Kental dengan pesan moral dan disajikan dengan pendekatan
karikatural.
Empat mahasiswa, empat pasang mata, empat keinginan untuk punya pacar
dan tidak jadi jomblo. Empat mahasiswa Universitas Negeri Bandung
jurusan teknik sipil itu sedang mencari jodoh di kampus sebelah. Sadar
bahwa di almamaternya tak ada keadilan gender (jumlah cewek lebih
sedikit), mereka pasang mata di kantin, mencari mahasiswi bening dan
rupawan.
Sejak awal film, kita langsung saja tahu keempatnya melalui Agus
(pendatang baru berpotensi, Ringgo Agus Rahman). Doni (Christian
Sugiono) yang ganteng dan banyak pacar berfungsi jadi dokter cinta yang
memberi saran bagaimana membuat cewek nyaman. Bimo (Denis Adhiswara yang
bersinar) lebih bernyali dengan kepulan cannabis sativa dan mengobrol
di telepon. Olip (Rizky Hanggono dengan kemampuan seni peran yang sangat
terbatas) lebih suka mengintip cewek pujaan melalui kamera ponselnya.
Dan Agus, tokoh kita, banyak omong, banyak kepusingan karena punya dua
pacar dan bingung memilih.
Bila kita sudah mulai sebal, bosan, atau abai pada film bertema
cinta, ini saatnya boleh mengalihkan perhatian. Film ini sebuah
karikatur dalam arti plot dan harfiah tentang cinta lelaki.
Kita kemudian memahami alasan lelaki untuk berselingkuh, alasan
lelaki untuk akhirnya mencoba setia, atau bagaimana lelaki bisa bubar
persahabatan hanya karena merasa kawasannya diganggu lelaki lain. Dengan
kata lain, lelaki menganggap perempuan sebagai teritorinya yang tak
boleh disentuh (sementara dia boleh, dong, berkunjung ke kawasan lain).
Tidak banyak yang menyadari keistimewaan Hanung bahkan setelah dia
mendapat gelar sutradara terbaik bahwa dia adalah sutradara yang sangat
teliti dan sangat memperhatikan kultur Indonesia. Artinya,
Saudara-Saudara, dia tak akan mencangkokkan sebuah konsep Amerika dan
memaksakan sebuah plot ke sebuah Indonesia. Mungkin karena latar
belakangnya di dunia teater atau pengalamannya magang di Teater Populer.
Yang jelas, meski film-film yang disutradarainya selalu berkategori
ringan, Hanung menggarapnya dengan serius.
Penanganannya terhadap pemain juga serius, meski memang keempat
pemain belum tampil merata. Kecuali Rizky Hanggono, ketiga aktor lain
tampil bagus. Para pemain perempuan pun bersinar. (Nadia Saphira dan
Denis Adhiswara boleh dilirik dengan serius.)
Ciri khas Hanung yang lain adalah filmnya cenderung sangat bermoral.
Artinya, tokoh-tokohnya pasti akan memutuskan menjadi orang baik (ada
mahasiswa yang membuang kondom meski pacarnya sudah menanti dengan penuh
harap, ada mahasiswa yang akhirnya bertahan dengan pacar pertama, dan
seterusnya). Doni si tukang bercinta tak lagi sembarangan menumpahkan
kelenjarnya, Bimo kualat tak pernah dapat pacar karena tak pede
melepaskan kesetiaan ganjanya. Pokoknya, semua ada sebab akibat, deh.
Tokoh-tokohnya memang bandel. Tapi baik. Hanung terobsesi membawa pesan
baik.
Film yang banyak memakai teknologi mix karikatural dengan tempo cepat
ini sebuah cara Hanung berekspresi. Seperti spirit film Y Tu Mama
Tambien (2001) karya sutradara Meksiko, Alfonso Cuaron, mengenai cinta,
persahabatan, dan seks; juga film American Splendor (2003) mengenai
kisah komikus Harvey Pekar.
Referensi
klik